Wamenkeu: Realisasi PNBP 2024 Melebihi Target APBN

HUMBIS.CO.ID – Tahun 2024 menorehkan prestasi gemilang bagi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi PNBP mencapai Rp579,5 triliun, melampaui target APBN sebesar 117%.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Anggito Abimanyu mengatakan, meskipun terjadi fluktuasi antar kuartal, capaian ini menunjukkan kinerja ekonomi yang positif.

“PNBP tahun 2024 mencapai Rp579,5 triliun (117 persen) melebihi target APBN,” kata Wamenkeu Anggito Abimanyu dalam konferensi pers APBN KiTA pada Senin (6/1/2025).

Anggito menjelaskan bahwa pada kuartal I-2024 mencatatkan pertumbuhan 10% menjadi Rp156,7 triliun, didorong oleh peningkatan dividen BUMN, layanan BLU, dan setoran PHT.

Namun, kemudian pada kuartal II-2024 mengalami kontraksi 17,3% menjadi Rp131,7 triliun akibat moderasi HBA, penurunan lifting migas, dan perlambatan PHT. Penurunan harga CPO juga mempengaruhi kinerja BLU sawit.

Tren penurunan berlanjut di kuartal III dan IV-2024, masing-masing mengalami kontraksi 5,6% (Rp141,6 triliun) dan 7% (Rp149,5 triliun), tetap dipengaruhi oleh faktor-faktor serupa seperti penurunan harga dan lifting migas, HBA, dan CPO. Namun, pertumbuhan positif tetap terlihat pada kinerja BLU, khususnya layanan rumah sakit, yang mampu mengimbangi penurunan di sektor lain.

Kontribusi Sektor Utama PNBP: Lebih rinci, PNBP dari sumber daya alam (SDA) migas, yang memberikan kontribusi 19,1 persen, mengalami kontraksi sebesar 4,5 persen year on year (yoy), mencapai Rp110,9 triliun pada 2024. Penurunan ini terutama disebabkan oleh rendahnya ICP dan lifting migas.

Sementara itu, PNBP dari SDA non-migas, yang menyumbang 20,4 persen dari total penerimaan, juga mengalami penurunan sebesar 14,3 persen yoy menjadi Rp118,3 triliun. Moderasi harga batu bara dan nikel menjadi faktor utama.

Sebaliknya, pendapatan PNBP Kekayaan Negara Dipisahkan (KND), yang memiliki pangsa 14,9 persen, menunjukkan peningkatan sebesar 5,3 persen yoy menjadi Rp86,4 triliun. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mendorong kinerja BUMN melalui pembayaran dividen yang lebih tinggi.

PNBP BLU juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 4,6 persen yoy, mencapai Rp100,3 triliun. “Kinerja layanan BLU, khususnya rumah sakit, terus meningkat seiring dengan tingginya harga CPO di semester II,” ujar Anggito.

Sementara itu, PNBP Lainnya, yang memiliki pangsa 28,2 persen, tercatat mengalami kontraksi sebesar 9,3 persen yoy menjadi Rp163,6 triliun. Meski menghadapi tekanan dari fluktuasi harga komoditas global, realisasi PNBP tahun 2024 tetap optimal.

Anggito menegaskan bahwa keberhasilan ini didukung oleh inovasi layanan, peran signifikan BUMN, serta komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas penerimaan negara di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis.

Secara keseluruhan, keberhasilan melampaui target APBN menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia meskipun menghadapi tantangan fluktuasi harga komoditas. Hal ini menjadi bukti pengelolaan keuangan negara yang efektif dan adaptasi yang baik terhadap dinamika pasar global.

Ke depan, peningkatan layanan BLU dan diversifikasi sumber PNBP perlu terus ditingkatkan untuk menjaga keberlanjutan penerimaan negara. Prestasi ini patut diapresiasi sebagai langkah positif dalam pembangunan ekonomi nasional. (Akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *