Penguatan Rupiah: Sinyal Positif dari Redanya Ketidakpastian Global

HUMBIS.CO.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menunjukkan tren positif hingga pertengahan September 2024. Bahkan, rupiah telah mengalami apresiasi secara tahun kalender (year to date/ytd).

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan bahwa Bank Indonesia (BI) mencatat, kurs rupiah pada 17 September berada di level Rp 15.330 per dollar AS, menguat 0,40 persen dari awal tahun 2024.

“Penguatan rupiah lebih baik dibandingkan dengan dinamika mata uang regional seperti rupee India dan won Korea yang masing-masing masih mengalami depresiasi sebesar 0,66 persen dan 3,41 persen,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Rabu (18/9/2024).

Penguatan rupiah ini sejalan dengan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global. Salah satu faktor utama adalah arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Laju inflasi di Amerika Serikat yang melandai telah memicu ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang lebih cepat dan besar.

BI memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga acuannya sebanyak 3 kali di sisa tahun 2024, dengan kemungkinan pemangkasan pertama terjadi pada pertemuan September.

Kejelasan arah suku bunga The Fed telah menyebabkan penurunan tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dengan tenor jangka pendek. Hal ini mendorong investor untuk mengalihkan dananya dari pasar keuangan AS ke pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Aliran masuk modal asing yang meningkat menjadi salah satu pendorong utama penguatan rupiah. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia yang semakin membaik.

Ke depan, Perry meyakini, rupiah terus menguat sejalan dengan menariknya imbal hasil, rendahnya inflasi, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian.

“Ke depan, seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI, untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam menarik aliran masuk modal asing dan mendukung penguatan nilai tukar rupiah,” ucapnya.

Penguatan rupiah merupakan sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia semakin kuat, yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. (akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *