HUMBIS.CO.ID – Indonesia, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, dikenal sebagai negara dengan kekayaan laut yang melimpah. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia pada impor ikan masih tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa dari Januari hingga Agustus 2024, nilai impor ikan dari negara-negara seperti Norwegia, Rusia, dan Cina mencapai 130,03 juta dollar AS.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan, total volume impor ikan dari periode Januari-Agustus mencapai 56,80 juta kilogram (kg).
Angka tersebut menunjukkan bahwa, meskipun Indonesia memiliki potensi perikanan yang sangat besar, kebutuhan pasar domestik masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
“Nilai impor ikan Januari sampai dengan Agustus 2024 adalah sebesar 130,099 juta dollar AS. Volume impor ikannya dari Januari hingga Agustus 2024 Ini sebesar 56,80 juta kilogram,” kata Pudji dikutip humbis.co.id Kamis (19/9/2024).
Meskipun potensi perikanan Indonesia sangat besar, kebutuhan pasar domestik masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia masih mengimpor ikan dalam jumlah yang signifikan.
Salah satu faktornya adalah kurangnya efisiensi dalam pengelolaan perikanan di Indonesia. Penangkapan ikan yang berlebihan, penggunaan alat tangkap yang merusak, dan kurangnya investasi dalam teknologi perikanan modern dapat menyebabkan penurunan stok ikan dan produksi perikanan.
Selain itu, kurangnya infrastruktur dan teknologi pascapanen juga menjadi kendala. Kurangnya fasilitas penyimpanan dan pengolahan ikan yang memadai dapat menyebabkan kerusakan dan pemborosan hasil tangkapan.
Ketergantungan pada impor ikan juga dapat dikaitkan dengan permintaan pasar domestik yang terus meningkat. Peningkatan populasi dan pendapatan masyarakat mendorong peningkatan konsumsi ikan, yang tidak dapat dipenuhi sepenuhnya oleh produksi perikanan dalam negeri.
Meskipun nilai impor ikan Indonesia secara kumulatif mengalami penurunan dari tahun 2023 ke 2024, hal ini tidak serta merta menunjukkan bahwa ketergantungan pada impor ikan telah berkurang. Peningkatan nilai impor ikan secara bulanan pada Agustus 2024 menunjukkan bahwa kebutuhan impor ikan masih tinggi.
Negara-negara asal utama ikan yang diimpor Indonesia selama periode tersebut adalah Norwegia, Cina, Rusia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat (AS).
Lebih rinci, Norwegia dengan reputasinya sebagai pemasok ikan salmon berkualitas tinggi, merupakan salah satu kontributor terbesar dengan nilai impor mencapai 26,59 juta dollar AS. Nilai ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 26,15 juta dollar AS.
Sementara itu, nilai impor ikan dari Cina periode Januari hingga Agustus mencapai 24,65 juta dollar AS. Atau lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2023 yang sebesar 72,27 juta dollar AS.
Kemudian, impor ikan dari Rusia dan Korea Selatan pada periode Januari hingga Agustus 2024 mengalami penurunan yang signifikan. Masing-masing sebesar 6,63 juta dollar AS, dan 1,84 juta dollar AS.
Lalu yang terakhir, impor ikan dari AS, yang melengkapi daftar negara pemasok ikan bagi konsumen Indonesia. Nilai impor mencapai 18,19 juta dollar AS. Nilai itu meningkat 130,85 persen dibanding periode yang sama tahun 2023 sebesar 7,88 juta dollar AS.
Ketergantungan Indonesia pada impor ikan merupakan masalah yang kompleks dengan berbagai faktor penyebab. Untuk mengurangi ketergantungan ini, diperlukan upaya serius dalam meningkatkan pengelolaan perikanan.
Perlu mengembangkan infrastruktur dan teknologi pascapanen, serta mendorong inovasi dalam budidaya ikan. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan potensi perikanannya secara optimal dan memenuhi kebutuhan pasar domestik tanpa harus bergantung pada impor. (akha)
