HUMBIS.CO.ID – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, baik pusat maupun daerah, bersiap memanfaatkan peluang akses pasar global yang terbuka lebar. Hal ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan tidak memihak, memberikan keunggulan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menekankan pentingnya koordinasi antara Kadin pusat dan daerah agar manfaat akses pasar ini dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha di seluruh Indonesia, khususnya UMKM.
Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai pertemuan internasional, mengajak kerja sama ekonomi dengan fokus pada pengentasan kemiskinan dan kelaparan. Kunjungan Presiden ke berbagai negara seperti China, Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Inggris telah membuka peluang bisnis bagi Indonesia.
“Dan saya benar-benar melihat langsung bahwa Pak Prabowo (Presiden Prabowo Subianto) bisa bicara mengenai makro, geopolitik, dan geoekonomi dalam setiap pertemuan dengan para pemimpin dunia. Beliau selalu menekankan dua kata, yaitu kemiskinan dan kelaparan,” kata Anindya Bakrie, dalam keterangan di Jakarta, Senin (16/12/2024).
Kadin melihat ini sebagai momentum untuk memperluas pasar produk-produk Indonesia, terutama di tengah kondisi global yang menantang, seperti perang dagang antara AS dan China, serta konflik geopolitik di Eropa, Rusia, dan Timur Tengah.
Stabilitas politik Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing. Kadin berkomitmen untuk memfasilitasi pelaku usaha Indonesia agar dapat memanfaatkan peluang ini secara maksimal.
Melalui program Kadin Economic Diplomacy (KED), Kadin aktif menjalin hubungan dengan berbagai pihak untuk membuka akses pasar dan mendukung pengembangan bisnis UMKM Indonesia di kancah internasional.
Dengan adanya keunggulan itu, Anindya menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki alasan kuat untuk tetap optimistis menghadapi dinamika global. Anin juga menyebutkan kerja sama perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa (EU) merupakan hal yang sangat penting.
“Bukan hanya karena kita makin banyak pasar makin bagus, tapi EU itu (memiliki) 17 triliun dolar AS (nilai) ekonomi. Jadi singkat kata ya 13 kali lebih besar daripada kita,” ungkapnya.
Anindya mengungkapkan, dalam kerja sama dengan Uni Eropa tentunya terdapat tantangan mengenai isu keberlanjutan tentang deforestasi hingga minyak kelapa sawit.
“Apakah mereka (EU) rewel mengenai sustainable palm oil? Iya. Apakah mereka rewel mengenai deforestation? Iya. Tapi ya (kita harus) cari jalan. Dan katanya Pak Presiden (Prabowo Subianto) mau mencoba untuk menyelesaikan di kuartal 1 tahun depan,” lanjutnya.
Ia mengatakan, dalam perdagangan itu pihaknya juga telah melakukan kerja sama. Adapun kerja sama ini membuahkan hasil mengenai akses pasar. Dan pekan lalu dengan Kanada (ICA CEPA) sudah teken. Nah ini apa gunanya? Akses pasar. Tidak bisa jualan kalau misalnya tidak ada pasarnya.
“Dan yang saya lihat juga dengan persaingan antara AS dan China, itu akan ada dua paralel track, dua hal paralel untuk peningkatan teknologi. Terutama dari sisi Artificial Intelligence (AI). Dan itu bagus buat Indonesia karena kita non-aligned, kita selalu teman dengan semuanya. Jadi hal-hal seperti ini ada bagusnya. Tapi persaingan itu juga banyak,” sambungnya.
Kadin harus bersaing demi kesejahteraan masyarakat luas. Hal ini guna membuktikan Kadin itu bisa bermanfaat bagi banyak orang. Dan teman-teman di provinsi ini bisa membantu untuk menyambungkan dari apa yang dibicarakan di luar negeri sampai kepada masyarakat.
Menurutnya optimistisnya terhadap ekonomi Indonesia, meski saat ini dunia tengah menghadapi situasi yang tidak pasti. Ia membandingkan situasi Indonesia dengan negara-negara besar seperti China, Amerika Serikat (AS), dan negara-negara di kawasan Eropa.
Anindya juga menyoroti tantangan yang dihadapi negara-negara besar. Misalnya, ketegangan politik di AS antara Partai Republik dan Partai Demokrat, serta perbedaan etika kerja antara negara-negara Eropa dan Asia.
“Kalau Eropa, umurnya relatif sudah tidak muda, etika kerjanya juga beda dengan di Asia. Ya mau tidak mau ya negaranya akan mendekati sosialisme,” ujarnya.
Dibandingkan dengan negara-negara adikuasa, Indonesia memiliki keunggulan dalam stabilitas politik dan relasi luar negeri yang strategis. Hal inilah yang membuka peluang untuk mendorong kesejahteraan masyarakat di tengah persaingan global.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian Indonesia dan kesejahteraan rakyat. Inisiatif ini mencerminkan optimisme dan komitmen Kadin untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (Akha)
