Tantangan Menuju Swasembada Pangan: Data dan Regenerasi Petani

HUMBIS.CO.ID – Mimpi Indonesia untuk mencapai swasembada pangan dalam waktu dekat, seperti yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, tampaknya masih terganjal oleh sejumlah tantangan besar.

Salah satu tokoh yang menyuarakan hal ini adalah Firman Subagyo, anggota DPR RI yang berpengalaman selama empat periode dan fokus pada isu pertanian. Firman melihat bahwa kompleksitas masalah pertanian di Indonesia tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Kendala utama adalah kurangnya data akurat tentang pertanian. Data yang akurat sangat penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran, mulai dari pemetaan lahan, kualitas tanah, hingga infrastruktur pengairan.

Menurut Firman data pertanian sangat penting sebagai dasar mengambil kebijakan dibidang pertanian, termasuk mencapai target swasembada pangan. Tanpa data yang valid, upaya mencapai swasembada pangan akan menjadi seperti berjalan di atas pasir.

“Dari data itu akan dapat diketahui dari 70,4 juta hektar lahan bagaimana kondisi lahannya, kualitas lahan, kualitas infrastruktur pengairan, dan lain sebagainya,” katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro 3, Minggu (20/10/2024).

Tantangan lainnya adalah regenerasi petani. Data menunjukkan bahwa mayoritas petani Indonesia berusia lanjut, dengan hanya 2% yang berusia muda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan pertanian Indonesia.

Kurangnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ketidakpastian harga hasil panen dan minimnya keuntungan ekonomi.

Firman menekankan bahwa untuk menarik minat generasi muda, diperlukan kebijakan yang berani dan berpihak pada petani. Salah satu solusi yang diajukan adalah menghentikan impor beras. Langkah ini diharapkan dapat memberikan jaminan harga bagi petani dan mendorong mereka untuk tetap bercocok tanam.

Ditempat yang sama, Ekonom Core Indonesia, Eliza Mardian menyebut pentingnya juga diperhatikan soal distribusi produk pertanian, terutama luar pulau Jawa. Sehingga tidak terjadi kelebihan pasokan atau kekurangan pasokan yang dapat berpengaruh terhadap harga.

“Masalah harga produk pertanian, khususnya gabah, inilah yang menjadi faktor yang membuat sektor pertanian tidak menarik bagi generasi muda. Dari aspek ekonomi dinilai tidak menguntungkan, apalagi sebagian besar petani kita memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar,” kata Eliza.

Tantangan menuju swasembada pangan di Indonesia memang tidak mudah. Namun, dengan komitmen yang kuat dan kebijakan yang tepat sasaran, mimpi untuk mewujudkan kedaulatan pangan di negeri ini bukanlah hal yang mustahil.

Keberhasilan ini membutuhkan peran aktif dari semua pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat, untuk bersama-sama membangun masa depan pertanian Indonesia yang lebih cerah. (akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *