Neraca Perdagangan Indonesia: Surplus Berkelanjutan Tunjukkan Ketahanan Ekonomi

HUMBIS.CO.ID – Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada September 2024, mencapai angka 3,26 miliar dollar AS. Capaian ini menandai 53 bulan berturut-turut surplus sejak Mei 2020, dengan akumulasi surplus mencapai 21,98 miliar dollar AS. Surplus ini menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah stagnasi ekonomi global.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu, menyatakan bahwa surplus neraca perdagangan mencerminkan ekonomi Indonesia yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah. Hal ini menjadi modal yang baik untuk masa depan.

Menurut Febrio, bahwa perdagangan Indonesia yang positif hingga September menjadi sinyal positif bagi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2024.

“Kemenkeu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di atas 5,0 persen, meskipun dihadapkan pada tantangan ekonomi global,” kata Febrio dalam keterangan tertulis dikutip humbis.co.id, Minggu (20/10/2024).

Meskipun Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur global masih terkontraksi pada September 2024, ekspor Indonesia tetap tercatat sebesar 22,08 miliar dollar AS. Peningkatan ekspor nonmigas sebesar 8,13 persen (year on year/yoy) menjadi faktor pendorong utama.

“Pemerintah terus memantau dampak perlambatan global terhadap ekspor nasional dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi. Langkah-langkah tersebut meliputi dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama,” lanjutnya.

Sementara itu, ekspor sektor migas tercatat mengalami penurunan. Kontributor utama yang mendorong peningkatan ekspor nonmigas di antaranya besi dan baja, bahan bakar mineral, nikel dan barang daripadanya, serta logam mulia dan perhiasan/permata.

Secara sektoral, pertumbuhan terbesar pada sektor pertanian sebesar 38,76 persen (yoy), diikuti sektor pertambangan dan lainnya sebesar 9,03 persen (yoy), dan juga sektor industri pengolahan sebesar 7,11 persen (yoy).

Tiongkok, AS, dan Jepang tetap menjadi negara mitra utama dengan kontribusi ketiganya sebesar 43,57 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia. Secara kumulatif, total ekspor pada periode Januari hingga September 2024 tercatat mencapai 192,85 miliar dollar AS.

Sementara itu, impor bulan September 2024 tercatat sebesar 18,82 miliar dollar AS atau naik 8,55 persen (yoy). Kenaikan impor tersebut didorong oleh kenaikan impor nonmigas sebesar 16,29 persen (yoy) di tengah penurunan impor migas sebesar 24,04 persen (yoy).

Kenaikan tertinggi terjadi pada impor barang modal sebesar 18,44 persen (yoy), disusul oleh impor barang konsumsi sebesar 11,30 persen (yoy) dan bahan baku penolong sebesar 5,87 persen (yoy).

Sementara penyumbang terbesar impor nonmigas adalah komoditas plastik dan barang dari plastik, mesin/peralatan mekanis, dan mesin/perlengkapan elektrik dengan kontribusi ketiganya sebesar 31,38 persen terhadap total impor nonmigas. Secara kumulatif dari Januari hingga September 2024, nilai impor Indonesia tercatat mencapai 170,87 miliar dollar AS.

Surplus neraca perdagangan Indonesia yang berkelanjutan menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia memiliki fondasi yang kuat dan mampu menghadapi tantangan global. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa strategi pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan diversifikasi ekonomi telah membuahkan hasil positif. (akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *