HUMBIS.CO.ID – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mempertahankan kebijakan makroprudensial yang longgar.
Langkah ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lebih signifikan di tahun 2025. BI memproyeksikan peningkatan pertumbuhan kredit sebesar 11-13 persen year on year (yoy), meningkat dari proyeksi 10-12 persen yoy di tahun ini.
Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan suntikan positif bagi perekonomian Indonesia, mendukung pertumbuhan usaha dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Pertama, Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial/KLM (insentif likuiditas bagi perbankan untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan melalui pengurangan Giro Wajib Minimum/GWM bank) untuk mendorong kredit pembiayaan yang diarahkan ke sektor-sektor prioritas pencipta lapangan kerja,” kata Perry di Gedung BI, Jakarta, dikutip Minggu (1/12/2025).
Sejumlah sektor tersebut mencakup sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, transportasi, pergudangan, pariwisata dan ekonomi kreatif, properti (khususnya perumahan rakyat), Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Ultra Mikro (UMi), dan ekonomi hijau.
Jumlah insentif juga akan dinaikkan dari Rp259 triliun pada 2024 menjadi Rp283 triliun mulai Januari 2025, dan ada 102 bank mendapatkan KLM di atas tiga persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK).
“Semakin banyak bank yang akan menerima insentif likuiditas dengan jumlah lebih besar,” ungkap dia.
Selanjutnya, rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) tetap longgar. Dalam hal ini, kebijakan uang muka kredit 0 persen tetap berlaku untuk kredit properti dan kredit otomotif.
“Ketiga, penguatan surveilans sistemik untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, berkoordinasi erat dengan Kementerian Keuangan, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), dalam KSSK (Komitmen Stabilitas Sistem Keuangan),” kata Perry.
Optimisme BI menunjukkan keyakinan akan stabilitas ekonomi dan potensi pertumbuhan yang lebih tinggi di masa mendatang. Hal ini memberikan harapan bagi para pelaku usaha dan masyarakat Indonesia untuk menghadapi tantangan ekonomi global dengan lebih percaya diri. (akha)
