Ekonom: Dampak Kemenangan Donald Trump sebagai Presiden AS bagi Indonesia

HUMBIS.CO.ID – Terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) memunculkan kekhawatiran di berbagai negara, salah satunya termasuk Indonesia.

Sebagai seorang pemimpin yang dikenal dengan kebijakan proteksionisme perdagangan internasional, kemenangan Trump berpotensi meningkatkan hambatan perdagangan dan investasi bagi negara-negara lain.

Putu Rusta Adijaya, peneliti bidang ekonomi dari The Indonesian Institute Center for Public Policy Research (TII), mengungkapkan bahwa kebijakan ‘America First’ yang diusung Trump dapat berdampak signifikan bagi Indonesia.

“Kebijakan ini berfokus pada penguatan ekonomi dalam negeri AS dengan memprioritaskan kepentingan nasional di atas kepentingan global,” kata Putu Rusta Adijaya di Jakarta, Kamis (7/11/2024).

Salah satu dampak yang mungkin terjadi adalah peningkatan tarif bea cukai terhadap produk-produk impor dari Indonesia. Hal ini dapat mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar AS dan berpotensi merugikan para eksportir.

Selain itu, kebijakan proteksionisme Trump juga dapat menghambat investasi asing di Indonesia, karena investor asing mungkin akan lebih memilih untuk berinvestasi di AS. Meskipun demikian, dampak terpilihnya kembali Trump bagi Indonesia tidak sepenuhnya negatif.

Ada kemungkinan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat hubungan bilateral dengan negara-negara lain, seperti China dan Uni Eropa. Indonesia juga dapat meningkatkan upaya diversifikasi pasar ekspornya agar tidak terlalu bergantung pada AS.

“Di tengah ketidakpastian ekonomi global, plus Trump dengan kebijakan ‘America First’-nya, akan dapat meningkatkan proteksionisme perdagangan internasional yang juga akan berimbas negatif bagi Indonesia,” ujar Putu Rusta.

Dampak pertama tentu saja akan ada potensi pengurangan net export Indonesia karena Trump akan menaikkan sekitar 10-20 persen tarif barang-barang impor yang masuk ke AS. Pengurangan net export ini akan berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi triwulan-III 2024 adalah 4,95 persen year-on-year yang mana masih di bawah rerata 5 persen yang dicapai beberapa tahun terakhir.

Dampak kedua adalah adanya capital outflow atau dolar pulang kampung ke AS karena Trump berjanji untuk memberikan insentif sangat besar, seperti pemotongan pajak dan deregulasi bagi perusahaan multinasional Amerika dan bahkan investor asing untuk lebih berfokus mengembangkan barang dan/atau jasanya di AS.

Menurut Putu, investasi maupun kondisi ekonomi domestik di AS lebih menarik dibandingkan kondisi ekonomi di negara berkembang seperti Indonesia, maka terjadi capital outflow. Muaranya adalah ke pelemahan nilai tukar rupiah.

“Perusahaan di Indonesia yang berutang dengan dolar akan semakin terbebani. Dampak jangka panjang yang ditakutkan adalah efisiensi perusahaan dengan PHK,” kata Putu.

Dia mengatakan retaliasi proteksionisme juga berpotensi akan dilakukan oleh negara-negara lain sebagai dampak ketiga. Hal ini akan membuat perdagangan internasional akan semakin menjauh dari semangat perdagangan bebas.

Kebijakan proteksionisme sedang terjadi dan kemungkinan akan tereskalasi karena Trump. Makin berjamur. The Indonesian Institute melihat bahwa kebijakan proteksionis di seluruh dunia.

“Seperti pembatasan perdagangan, memiliki Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 82,55 persen selama periode 2009-2022. CAGR pembatasan perdagangan yang diberlakukan untuk barang itu 77,63 persen, untuk jasa sebesar 61,68 persen, dan untuk investasi sebesar 52,04 persen,” katanya.

Terkait dengan hal itu, negara maju mendominasi banyaknya kebijakan proteksionis di dunia. Kalau nanti para mitra dagang Indonesia melakukan proteksionisme imbas dari kebijakan Trump, Indonesia akan semakin merugi. (akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *